Minggu, 13 November 2016

kawin suntik hewan ruminansia

INSEMINASI BUATAN (IB) atau KAWIN SUNTIK PADA SAPI 

 Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut 'insemination gun'.

Sejarah Perkembangan Inseminasi Buatan
Inseminasi Buatan (IB) pada hewan peliharaan telah lama dilakukan sejak berabad-abad yang lampau. Seorang pangeran arab yang sedang berperang pada abad ke-14 dan dalam keadaan tersebut kuda tunggangannya sedang mengalami birahi. Kemudian dengan akar cerdinya, sang pangeran dengan menggunakan suatu tampon kapas, sang pangeran mencuri semen dalam vagina seekor kuda musuhnya yang baru saja dikawinkan dengan pejantan yang dikenal cepat larinya.Tampon tersebut kemudian dimasukan ke dalam vagina kuda betinanya sendiri yang sedang birahi. Alhasil ternyata kuda betina tersebut menjadi bunting dan lahirlah kuda baru yang dikenal tampan dan cepat larinya. Inilah kisa awal tentang IB.
Tujuan Inseminasi Buatan
- Memperbaiki mutu genetika ternak;
- Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya;
- Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
- Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
- Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.
Keuntungan Inseminasi Buatan (IB)
- Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
- Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
- Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
- Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
- Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
- Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar;
- Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
Kerugian IB
- Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan;
- Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil;
- Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama;
- Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).

Penampungan Semen
- Dapat dilakukan 1-3 x /minggu
- Harus terampil dalam menyiapkan alat penampung (vagina buatan) dan terampil dalam menampung semen
- Evaluasi kualitas semen : gerakan massa, motilitas, LD dan konsentrasi. Hanya yang kualitas baik yang dapat diproses lebih lanjut.
- Pengenceran dan pengawetan
- Pengawetan : semen beku atau semen cair (chilled semen)
Waktu Melakukan Inseminasi Buatan (IB)
Pada waktu di Inseminasi Buatan (IB) ternak harus dalam keadaan birahi, karena pada saat itu liang leher rahim (servix) pada posisi yang terbuka. Kemungkinan terjadinya konsepsi (kebuntingan) bila diinseminasi pada periode-periode tertentu dari birahi telah dihitung oleh para ahli, perkiraannya adalah :
- permulaan birahi : 44%
- pertengahan birahi : 82%
- akhir birahi : 75%
- 6 jam sesudah birahi : 62,5%
- 12 jam sesudah birahi : 32,5%
- 18 jam sesudah birahi : 28%
- 24 jam sesudah birahi : 12% Faktor - Faktor Penyebab Rendahnya Kebuntingan
Faktor - faktor yang menyebabkan rendahnya prosentase kebuntingan
- Fertilitas dan kualitas mani beku yang jelek / rendah;
- Inseminator kurang / tidak terampil;
- Petani / peternak tidak / kurang terampil mendeteksi birahi;
- Pelaporan yang terlambat dan / atau pelayanan Inseminator yang lamban;
- Kemungkinan adanya gangguan reproduksi / kesehatan sapi betina. Jelaslah disini bahwa faktor yang paling penting adalah mendeteksi birahi, karena tanda-tanda birahi sering terjadi pada malam hari. Oleh karena itu petani diharapkan dapat memonitor kejadian birahi dengan baik dengan cara:
- Mencatat siklus birahi semua sapi betinanya (dara dan dewasa);
Petugas IB harus mensosialisasikan cara-cara mendeteksi tanda-tanda birahi. Salah satu cara yang sederhana dan murah untuk membantu petani untuk mendeteksi birahi, adalah dengan memberi cat diatas ekor, bila sapi betina minta kawin (birahi) cat akan kotor / pudar / menghilang karena gesekan akibat dinaiki oleh betina yang lain.
Cara apikasi hormon untuk penyerentakkan birahi adalah sebagai berikut :
- Laksanakan penyuntikan hormon pertama, pastikan bahwa :Sapi betina resipien harus dalam keadaan sehat dan tidak kurus (kaheksia);
- Sapi tidak dalam keadaan bunting, bila sapi sedang bunting dan penyerentakkan birahi dilakukan maka keguguran akan terjadi.
- Laksanakan penyuntikan hormon kedua dengan selang 11 hari setelah penyuntikan pertama;
Birahi akan terjadi 2 sampai 4 hari setelah penyuntikan kedua.
Prosedur Inseminasi Buatan adalah sebagai berikut:
- Sebelum melaksanakan prosedur Inseminasi Buatan (IB) maka semen harus dicairkan (thawing) terlebih dahulu
- dengan mengeluarkan semen beku dari nitrogen cair dan memasukkannya dalam air hangat atau meletakkannya
- dibawah air yang mengalir. Suhu untuk thawing yang baik adalah 37oC. Jadi semen/straw tersebut dimasukkan dalam
- air dengan suhu badan 37 oC, selama 7-18 detik.
- Setelah dithawing, straw dikeluarkan dari air kemudian dikeringkan dengan tissue.
- Kemudian straw dimasukkan dalam gun, dan ujung yang mencuat dipotong dengan menggunakan gunting bersih
- Setelah itu Plastic sheath dimasukkan pada gun yang sudah berisi semen beku/straw
- Sapi dipersiapkan (dimasukkan) dalam kandang jepit, ekor diikat
- Petugas Inseminasi Buatan (IB) memakai sarung tangan (glove) pada tangan yang akan dimasukkan ke dalam rektum
- Tangan petugas Inseminasi Buatan (IB) dimasukkan ke rektum, hingga dapat menjangkau dan memegang leher rahim (servix), apabila dalam rektum banyak kotoran harus dikeluarkan lebih dahulu
- Semen disuntikkan/disemprotkan pada badan uterus yaitu pada daerah yang disebut dengan 'posisi ke empat'.
- Setelah semua prosedur tersebut dilaksanakan maka keluarkanlah gun dari uterus dan servix dengan perlahan-lahan.

kawin alami hewan ruminansia

Kawin alam merupakan salah satu cara dalam pengembangbiakan ternak sapi potong yang dianjurkan dengan pertimbangan: 1) secara alamiah ternak sapi potong memiliki kebebasan hidup, sehingga mendukung perkembangbiakannya secara normal, 2) secara alamiah ternak sapi jantan mampu mengetahui ternak sapi betina yang berahi, 3) penanganan perkawinan secara kawin alam memerlukan biaya yang sangat murah, tanpa adanya campur tangan manusia, 4) metode kawin alam sangat efektif dan efisien, sehingga dapat digunakan sebagai pola usaha budidaya ternak mulai dari cara intensif, semi intensif dan ektensif, bahkan juga dilakukan di beberapa perusahaan (Anonim).


Astuti et al. (1983) dan Keman (1986) menyatakan bahwa produktivitas ternak potong di Indonesia masih tergolong rendah dibanding dengan produktivitas dari ternak sapi di negara-negara yang telah maju dalam bidang peternakannya. Namun Vercoe dan Frisch (1980); Djanuar (1985); Keman (1986) menyatakan bahwa produktivitas sapi daging dapat ditingkatkan baik melalui modifikasi lingkungan atau mengubah mutu genetiknya dan dalam praktek adalah kombinasi antara kedua alternatif diatas (Nugroho, 2008).

Memperbaiki mutu genetik ternak melalui kawin silang antara induk lokal dengan pejantan unggul. Secara nasional, cara ini dapat direkomendasikan untuk membantu peternak dalam meningkatkan produksi dan produktivitas ternak. Pengembangan dan penyempurnaan stok bibit nasional juga dilanjutkan, antara lain dengan membangun institusi penangkar bibit ternak yang dihasilkan oleh lembaga penelitian (Mayulu, 2010).

Secara alami, seekor pejantan hanya mampu melayani 20-30 ekor betina, tetapi dengan teknologi IB kemampuannya meningkat ribuan kali. Teknologi IB dapat digunakan untuk membantu pelaksanaan program seleksi pada sapi potong, karena akan meningkatkan intensitas seleksi. Namun, hal ini akan diimbangi dengan meningkatnya interval generasi (L) karena diperlukan uji zuriat atau progeny testing yang memerlukan waktu cukup lama. Oleh karena itu diperlukan upaya lain agar rasio i/L maksimum sehingga respons seleksi (R) terus meningkat setiap tahun. Dalam jangka panjang, aplikasi IB juga dapat mempengaruhi keragaman sehingga respons seleksi mengalami pelandaian (plateau). Sementara itu, bila tidak didukung dengan pencatatan yang baik, peluang akan terjadi silang dalam (inbreeding) sangat besar (Diwyanto, 2008).

kawin silang hewan ruminansia

Kawin Silang Sapi & Banteng Hasilkan Jaliteng

PASURUAN--Hewan banteng, kerbau, sapi adalah hewan yang serumpun alias mirip tapi tidak sama. Anda semua pasti mengenal ciri dan sifat masing-masing.
Banteng adalah simbol keperkasaan, liar, dan keberanian. Hewan ini tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga melegenda di banyak dunia. Sebut saja hajatan adu banteng vs matador di Spanyol.
Kerbau adalah simbol kemakmuran dan keberhasilan sebagian suku di Tanah Air. Legenda Minangkabau, misalnya sering dikaitkan dengan ternak ini.
Sapi, bagi warga Indonesia, ini lebih dikenal. Lebih-lebih pada Ramadan dan jelang Lebaran lalu saat harga daging melonjak. Bagi warga perdesaan sapi masih dijadikan indikator kekayaaan dan kemakmuran yang dikenal sebagai rojo koyo bagi suku Jawa.
Namun, apa jadinya jika sapi dan banteng dikawin silang?
Adalah Taman Safari Indonesia II Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang juga sebagai lembaga konservasi ex-situ mengembangkan sapi jenis baru "Jaliteng" yang merupakan hasil inseminasi buatan antara sapi Bali-Banteng Jawa.
Manajer Satwa Taman Safari Indonesia II Prigen drh Ivan Candra, mengatakan inseminasi buatan itu saat ini masih sebagai uji coba, guna mendapatkan bibit sapi yang terbaik.
"Masing-masing mempunyai kelebihan. Misalnya, untuk banteng, pencernaannya kuat, hidupnya di daerah kering, tapi mampu gemuk. Artinya pencernaannya baik," ujarnya, MInggu (9/9).
Dia menjelaskan uji coba itu telah dilakukan sejak 2011 setelah Taman Safari mendapatkan bantuan 10 ternak sapi Bali dari Pemerintah Provinsi Jatim.
Dengan rencana pengembangan inseminasi buatan antara sapi Bali dengan Banteng yang merupakan milik Taman Safari sendiri, akhirnya bisa terealisasi. Dari hasil itu, ternyata hasil persilangan tersebut cukup baik.
Persilangan antara sapi Bali dan Banteng Jawa itu menghasilkan anak yang lebih berat bobotnya. Biasanya, anak sapi lahir dengan berat badan 16-17 kilogram, melalui persilangan tersebut menjadi 18-21 kilogram.
Pihaknya menyebut, dari sekitar 10 sapi Bali itu telah menghasilkan delapan ekor anak, empat jantan dan empat betina. Secara keseluruhan sudah ada 16 ekor, tapi sebagian sudah ditarik oleh Pemprov Jatim, pascakeberhasilan inseminasi buatan itu.
Usia sapi "Jaliteng" itu juga bervariasi, antara 5 bulan sampai yang terbesar 18 bulan.
Hasil dari inseminasi itu juga menyerupai banteng dan sapi. Secara fisik, tanduk "Jaliteng" lebih besar menyerupai banteng, tetapi secara wajah lebih mirip sapi.
Warna tubuh ternak tersebut juga beragam, ada yang hitam dan coklat, mirip dengan sapi Bali.
Untuk makanan, ia mengatakan sama seperti ternak pada umumnya. Namun, ternak itu lebih banyak diberikan tambahan makanan seperti vitamin saat bunting.
Ia mengatakan, memang memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa mengembangkan ternak persilangan antara sapi dengan banteng itu. Dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan, agar kedua hewan dengan jenis berbeda itu mau menyatu.
Perawatan, lanjut dia, juga lebih intensif dilakukan ketika ternak hendak beranak. Selain mengantisipasi serangan hewan liar seperti anjing, juga menjaga lokasi pemeliharaan sapi itu.
Ivan juga mengatakan, upaya pengembangan jenis sapi hasil inseminasi buatan itu terus dilakukan. Selain ingin mendapatkan bibit yang terbaik, juga demi melestarikan keturunan. Populasi ternak banteng di Jawa sudah semakin terbatas.
Namun, untuk konsumsi sampai saat ini masih belum bisa dilakukan. Taman Safari masih konsentrasi dengan penelitian untuk pengembangan, dan belum sampai ke riset apakah daging "Jaliteng" itu bisa dikonsumsi.
"Kami lakukan riset dan kerja sama dengan Balai Inseminasi Buatan di Singosari. Tujuannya memperbaiki genetik," ujarnya.
Saat ini, di lokasi wisata itu terdapat 28 banteng dan 10 sapi Bali. Walaupun ada program inseminasi buatan untuk mengawinkan dua hewan itu, Taman Safari menegaskan tidak akan mengganggu proses reproduksi alami kedua hewan itu.
Gambar terkait